Saturday, January 7, 2012

Si Angkri Jagoan Pasar Ikan

Angkri melotot sambil berkata, “Kalian belum tahu juga siapa yang berdada besar ini?”
“Tahu, Bang. Tahu betul,” jawab Madun cepat. “Sudah lama tahu, Bang,” Bai ikut menjawab. “Dibacok tidak mempan, nih!” kata Angkri dengan sombong.

Tiba-tiba dia membuat kaget dua pengikutnya itu dengan memegang kerah baju mereka, “Jadi kenapa kamu semua tidak menuruti omongan saya?”

“Ampun, Bang!”
“Kalau begitu,” kata Angkri kemudian, “kerjakan perintah saya!”
Bai dan Madun segera pergi.

Angkri adalah pemimpin Bai dan Madun. Mereka selalu berpakaian serba- hitam, berikat kepala, dan lengan bergelang akar bahar. Di jari-jari mereka bertengger beberapa cincin batu akik yang besar. Di pinggang mereka selalu terselip golok. Mereka amat ditakuti penduduk, terutama di setiap warung makan di Pasar Ikan karena mereka tidak pernah membayar makanan yang telah dimakan. Pemilik warung menganggap hanya berderma saja kalau mereka datang.

Saat itu tahun 1916. Pasar Ikan penuh perahu layar yang besar. Sebagian dari perahu-perahu itu masuk sampai dekat jembatan Kota Intan. Ramai sekali. Barang-barang dagangan disimpan di dalam gudang-gudang tidak jauh dari Pasar Pisang. Setelah malam turun, keadaan sepi kembali.

Madun dan Bai kembali dari tugas yang diberikan si Angkri. Wajah mereka lesu. Lemas. Lapar. “Mann?” kata Angkri seperti menagih utang. “Gagal, Bang,” jawab Madun.
Bai juga menjawab dengan nada takut dihukum. Angkri betul-betul tidak bisa mengendalikan diri. Kedua anak buahnya ditampar.

“Bodoh kamu semua! Apa harus saya yang mengerjakan sendiri?”

“Rasanya begitu, Bang Angkri,” kata Madun.

“Tetapi mereka memang sedang tidak lancar, Bang,” Bai memberikan alasan, “biasa, musim barat. Ikan tidak muncul. Nelayan takut ke laut. Pedagang di Pasar Ikan banyak yang menganggur, Bang!’

“Kalian tidak punya taktik. Saya mau coba. Kalau saya berhasil, awas kepala kalian, bisa copot dari leher!”

Pada zaman itu Pasar Ikan jadi wilayah mereka. Penduduk yang rata-rata menjadi nelayan dan pedagang kecil tidak berani melawan Angkri dan kawan-kawannya itu. Angkri tidak hanya memukul, tetapi juga tidak segan-segan menebas dengan golok. Pernah seorang nelayan dibacok lehernya. Untung, tidak sampai mati.

Pengalaman pedagang daging lain lagi. Waktu Angkri datang, dia malah berkacak pinggang. Kontan Angkri merampas pisau daging. Sejak itu apa pun yang diminta Angkri tidak pernah ditolak. Para pedagang menyediakan makanan dan minuman di suatu tempat yang bersih. Begitu Angkri datang, orang-orang di pasar menyambut dia seperti pembesar. Angkri dan dua orang pengawalnya itu tertawa-tawa sambil berbicara sesukanya, tanpa malu-malu. Pada waktu pulang, pedagang daging dan pedagang lainnya memberi bekal, termasuk uang secukupnya. Senanglah Angkri mendapat “uang jago” yang rutin. Cukup dengan atribut golok di pinggang, seragam hitam, dan kumis melintang!

Angkri sering menyuruh Bai dan Madun. Uang dan keperluan lain diberikan para pedagang dan nelayan Pasar Ikan melalui suruhannya itu. Jika mereka gagal, Angkri mencoba sendiri ke sana.
Kebetulan suatu siang Angkri melihat perahu-perahu layar membawa barang dagangan berupa barang pecah belah dan kain-kain sutra yang bagus. Angkri dan kedua kawannya segera merencanakan siasat. Orang lain tidak ada yang tahu. Mereka hanya bisik-bisik. Setelah itu mereka main kartu menunggu larut malam.
Sementara itu, di suatu rumah bambu tinggallah keluarga Pak Ocin. Pak Ocin, seorang laki-laki berjenggot putih, sedang sibuk menghadapi istrinya.

“Sudah, Yah, sudah,” kata istrinya kemudian, “tiap hari ribut perkara sepele. Saya tidak tahu di mana cerutu Ayah disimpan, Kapan Ayah dapat cerutu, beli di mana? Seperti tuan besar saja, Yah!”
“Kamu orang perempuan, Mah, mana tahu perkara orang laki. Meskipun sudah tua, tetapi pergaulan makin begini,” jawab Pak Ocin sambil mengangkat ibu jari, “pelaut-pelaut kawan saya semua. Mereka pasti singgah ke rumah saya. Kamu tidak tahu kemarin Tuan Opsinder memberi hadiah sekotak cerutu. Saya sudah merasakan satu. Tetapi sekarang mana kotak itu, Mah? Jelas kamu tahu. Barang-barang lain boieh hilang, asal jangan cerutu sekotak hadiah tuan besar itu!”

“Mana saya tahu, Yah? Mana saya tahu? Ayah boleh sebut selusin nama-nama pemilik perahu, dua puluh tuan besar, dan lima betas opsinder. Tetapi, saya tetap tidak tahu cerutu Ayah. Coba tanya pada tikus dan kucing kita. Dapat sebatang cerutu saja lagaknya sudah melebihi Belanda.
Mujenah segera muncul dart kamar. “Kenapa ribut-ribut terus, Bu? Apa tidak bisa rukun dengan Ayah?”

“Itulah Ayahmu, Mujenah. Kerjanya menuduh Ibu terus. Ayahmu mengira Ibu ini tikus yang menyembunyikan cerutu. Cerutu bikin mulut besar!”

“Sudah, Bu, sudah. Kasihan Bang Kasun baru pulang jaga. Siang ini harus tidur.”
Ibu Ocin melemparkan pandangannya ke kamar sebeiah. Lalu tersenyum.

“Ya, suamimu baru saja pulang tadi. Begitu kaiau kerja jadi penjaga maram empang kampung Kapal Rusak. Jaga semalaman. Tetapi, Kasun suamimu sudah lebih aiim dan rajin sekarang. Selalu bawa oleh-oleh kalau pulang. Ibu senang punya menantu seperti dia. Asal tidak dengan Angkri.”
Dengar nama Angkri disebut, kontan Pak Ocin menyahut, “Jangan lagi suruh suamimu berteman dengan Angkri, Mujenah. Saya pesan, jangan. Angkri orangnya panjang tangan.”

“Sudah, Yah. Jangan ribut lagi. Siang ini Bang Kasun sedang berbaring. Apa Ayah tidak sayang dengan menantu?”

“Heh, heh, heh,” Pak Ocin terkekeh pelan. Lalu, duduk kembali di balai-balai sambil melinting rokok daun jagung. Setelah rokok itu disulut pakai korek batu api diisapnya pelan-pelan.
“Ini juga tidak kalah!” katanya sambil tersenyum. Ibu Ocin dan anak perempuannya, Mujenah, menatapnya pula dengan senyum.

Tanpa disangka-sangka, Angkri, Madun, dan Bai memasuki rumah Pak Ocin. Seisi rumah, kecuali Kasun yang masih tidur, kaget. Mereka tampak menjinjing beberapa bungkusan dengan wajah mencurigakan.
“Ocin,” hardik Angkri, “saya mau titip barang-barang saya ini. Besok pagi akan saya ambil, langsung berlayar ke Sumatra. Sekarang saya mau cari kapal.”

“Tidak bisa, Kri,” jawab Pak Ocin dengan memberanikan diri.

“Apa kamu bilang?” gertak Angkri. Dua kawannya yang lain mulai jengkel.

“Di sini rumahnya sempit. Kamu tahu sendiri, bukan?”

“Kamu menuduh saya, Ocin? Ini barang saya beli untuk dijual lagi di Sumatra. Kamu kira ini barang curian?”

“Karena barangmu Angkri, saya takut kalau kamu simpan di rumah saya. Kalau dicuri orang siapa yang bertanggung jawab? Kamu bisa menyalahkan saya yang sudah tua ini. Dari mana saya minta ganti, Angkri?”
Soal debat memang Pak Ocin sudah dikenal. Pengalamannya banyak. Orang muda pasti kalah. Apalagi Angkri dan kawan-kawannya yang selalu mengunggulkan diri itu, tidak akan menang. Oleh karena itu, Angkri mulai mencan akal. Dia yakin Pak Ocin sudah curiga sehingga dia mau memaksa. Dia sudah memberi isyarat kepada Madun dan Bai.

Dari percakapan yang lirih akhirnya menjadi keras. Pak Ocin pandai mengutarakan alasan yang masuk akal. Ia mengatakan bahwa dia orang sederhana dengan pendapatan tidak tetap. Jadi, kalau dititipi barang yang mahal, sangat dikhawatirkan kalau hilang tidak akan sanggup mengganti. Jadi, bukannya menolak, tetapi karena barang titipan Angkri terlalu berharga.

Kasun terbangun mendengar ribut-ribut. Keluar dari kamar, dia melihat mertuanya dituding-tuding oleh Madun dan Bai. Kasun merasa tersinggung. Dia menghalangi tubuh Pak Ocin agar tidak dituding.

“Saban, Dun,” kata Kasun, “Bai, jangan. Kalian tentunya ingat saya. Kita teman lama.”

“Jangan menyebut diri teman. Ini bagianmu!” teriak Angkri dari belakang.

Kasun kena tempeleng pelipisnya, tetapi dia kuat. Dia seorang diri menghadapi mereka bertiga. Perkelahian semakin ramai. Pak Ocin tidak bisa berbuat apa-apa. Andaikata membantu menantu, dia bingung bagaimana caranya memukul, pakai gagang tongkat, pakai sapu atau apa? Lagi pula Angkri, Madun, dan Bai orangnya sangat tangkas. Tampak Kasun mulai tersengal-sengal. Kepalanya babak belur.

Mujenah berteriak. Para tetangga sudah tahu siapa yang bikin ribut. Mereka takut. Lebih baik purapura tidak mendengar daripada melongok, apalagi memberi pertolongan, bisa kena bacok. Jadi perkara. Keluarga juga repot. Oleh karena itu, lebih baik tinggal di dalam bilik. Tutup pintu. Aman.

Bu Ocin bingung. Dia berteriak lebih keras. “Bereskan saja nenek itu, Dun,” perintah Angkri, “bisa celaka kita karena teriakannya.”

“Lebih baik si Mujenah yang kita bawa, Bang. Sayang si cantik dibiarkan menjanda. Lihat Kasun sudah roboh.”

“Ah, waktunya tidak ada lagi. Ayo cepat sedikit. Kita langsung ke kapal!”
Kawanan penjahat itu segera meninggalkan rumah Pak Ocin. Mujenah pingsan sebelum diapa-apakan oleh Angkri, Madun, dan Bai.

Dua jam kemudian, Bek Kasan bersama Pak Ocin tampak bergegas. Mereka masuk rumah yang susunan perabotannya sudah berantakan. Ternyata, Kasun hanya luka di kepala kena pukulan kayu. Tengkuknya tergurat golok sedikit dan sudah dibalut Mujenah yang telah sadar dari pingsan. Bu Ocin memberikan air dari kendi agar cepat diminum Kasun. Mulailah mereka ramai membicarakan apa yang baru saja mereka alami.
“Kasun,” kata Bek Kasan yang tidak lain abangnya sendiri, “perkaramu sudah saya catat. Sebentar lagi tertangkap semua. Kamu tak perlu ikut. Saya yang akan mengurus. Beres.”
Kasun hanya diam.

Bek Kasan lalu berkata kepada Mujenah, “Jaga suamimu baik-baik di rumah, Nah. Dia perlu perawatan mu.”
“Ya, Bang Kasan. Terima kasih.”

“Kalau begitu saya pergi dulu,” kata Bek Kasan. Kepada Pak Ocin dia juga permisi.

Tuan opsinder bernama Bloomekomp amat geram melihat pintu gudangnya telah terkuak dirusak orang. Siapa pendobraknya? Tentu penjahat yang sudah tidak asing lagi di Pasar Ikan. Segera dia menghubungi kepala opas. Dia bertanya mengenai banyak hal, terutama siapa yang suka bikin onar akhir-akhir ini.
Segera diketahui, yaitu si Angkri. Kawannya dua orang, sama-sama jahat. Kalau bukan mereka apa ada penjahat lainnya? Tidak ada. Hanya mereka bertiga. Atas penyelidikan yang sederhana, tetapi memusat itu pikiran Bloomekomp langsung pada Angkri. Kebetulan, Pak Ocin sekeluarga juga menyusul ke kantor kepala opas. Tuan Bloomekomp makin memakIumi ekor peristiwanya. Atas kebaikan opsinder pemilik gudang, Opsinder Bloomekomp, Kasun bisa dirawat di rumah sakit terdekat.

Kepala opas, Bek Kasan, dan tiga orang anggota keamanan tidak menyia-nyiakan waktu. Mereka telah mengetahui ke mana biasanya Angkri pergi. Kalau tidak ke Pasar Ikan, pasti ke kampung Kapal Rusak. Akan tetapi, mereka tidak ada di tempat-tempat itu. Mereka mencari keterangan di daerah Pasar Pisang. Akhirnya didapat keterangan bahwa Angkri dan kawan-kawannya sudah di barat Kota Intan, dekat laut menuju ke Kamal.

Kemudian Bek Kasan, kepala opas, dan tiga orang anggotanya mengejar Angkri. Ternyata memang benar. Bungkusan-bungkusan basil curian membuat Angkri dan kawan-kawannya sukar untuk berlari dengan bebas. Angkri memerintahkan Madun dan Bai untuk memencar. Masing-masing harus menyelamatkan diri. Akan tetapi, justru gerakan ini memperlemah mereka. Kepala opas dengan mudah membereskan Madun yang menyerah karena kelelahan, tidak kuasa lagi mengayunkan tangan. Kepala opas langsung memborgol kedua tangannya.

Bai sama juga. Begitu tahu kalau yang dihadapi tiga anggota keamanan yang lengkap dengan pentung dan senapan, Bai berlutut seketika. Kemudian giliran Angkri. Bek Kasan marah dan menantang Angkri berkelahi satu lawan satu. Angkri melayani. Pertarungan seru. Angkri mencabut goloknya. Akan tetapi, sudah didahului tendangan keras dari kaki Bek Kasan. Golok Angkri terpental ke lumpur. Seketika itu Angkri menggunakan jurus-jurus silatnya. Bek Kasan kena sodok perutnya. Jatuh telentang. Begitu Bek Kasan jatuh di tanah, Angkri meloncat dengan kedua lutut di depan. Biar mampus Bek Kasan. Mungkin perutnya bisa ambrol.

Akan tetapi, Bek Kasan sudah memperhitungkan. Dia cepat mengelak ke kanan sehingga kedua lutut Angkri menghunjam ke batu. Setelah itu, Angkri tidak bisa berjalan. Kedua lututnya seperti pecah. Bek Kasan segera memegang kepala Angkri. Rambutnya ditarik, Angkri menyerah. Dia dibawa ke kantor opas di Kota Intan. Atas keputusan hakim, Angkri dianggap sebagai biangnya. Madun dan Bai masuk penjara beberapa tahun, sedangkan Angkri menjalani hukuman gantung.





Sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/si-angkri-jagoan-pasar-ikan.html

PANGERAN SARIF

Jatuhnya Jayakarta ke tangan Kompeni Belanda pada tahun 1619 membuat banyak ulama marah. Mereka menjauhi keramaian kota dan pergi berbondong-bondong ke tempat yang lebih udik. Mereka melakukan persiapan, siapa tahu suatu saat dapat melakukan pembalasan untuk menguasai kota Jayakarta kembali. Walaupun kenyataannya sulit, mereka tidak kenal putus asa. Mereka terpaksa hidup di tepi-tepi hutan, sedangkan anak dan istri ditinggalkan beberapa saat. Hanya pada saat tertentu mereka berkumpul, sesudah itu berpisah kembali. Karena keadaan yang terus menekan, lama-kelamaan merepotkan juga kalau keluarga ditinggalkan. Mau tidak mau keluarga harus diajak. Salah seorang dari para ulama itu adalah Pangeran Sarif. Selain istri, ikut juga seorang pembantu lelakinya yang masih muda.

Kondisi kekuatan Kompeni Belanda dengan bentengnya yang baru harus diperhitungkan masak-masak. Oleh karena itu, diperlukan waktu cukup lama untuk mempersiapkan penyerangan. Hal yang lebih mendesak dan harus ditanggulangi adalah keamanan sehari-hari. Hampir setiap hari terjadi perampasan dan perampokan. Rakyat kecil ketakutan. Mereka tidak berani berjalan sendiri di jalan-jalan yang sepi, lebih-lebin di malam hari. Para perampok memilih rumah yang dianggap menyimpan banyak harta. Mereka menaklukkan pemiliknya. Syukur tidak dibunuh. Akan tetapi, sudah pasti barang-barang mereka dijarah habis. Setelah itu keadaan sepi kembali, membuat bulu kuduk meremang.

Para perampok bukan saja membawa golok-golok tajam untuk mendongkel daun nipah penutup rumah, tetapi yang lebih mengerikan adalah saat mereka menggunakan kesunyian malam untuk membuat galian panjang dari luar rumah. Pemilik rumah akan kaget keesokan harinya karena seluruh harta yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah, lenyap begitu saja dibawa kabur perampok-perampok itu.
Rakyat kecil tetap rakyat kecil. Mereka hidup dari hasil pertanian. Ada juga bekas nelayan atau pemilik tambak ikan. Di tempat baru mereka membuat rumah sederhana dengan sisa-sisa hartanya.

Pada suatu malam mereka mendengar teriakan dan luar rumah. Teriakan para perampok kasar yang menantang agar keluar. Tentu saja tantangan itu mereka hindari sebab tidak mungkin menang. Lebih balk menurut saja apa kata perampok-perampok itu. Mereka tidak mau tubuh mereka diseret dan disiksa seperti korban yang lain. Biarlah sisa-sisa harta itu dibawa pergi, yang penting nyawa masih ada. Begitu juga anak istri selamat dan tidak dianiaya. Rumah para tetangga jauh letaknya dan mereka tidak mungkin memberikan pertolongan.

Keadaan tidak aman itu diketahul benar oleh Pangeran Sarif. Suatu saat memang terpikir olehnya untuk bertindak tegas menumpas perampok-perampok itu. Untung, dia masih berpiklr panjang. Kepada istri dan pembantunya dia menekankan untuk bersikap lebih tenang.
“Sekaii-kali tidak perlu takut,” katanya, “tenanglah. Harta kita ini juga harta Tuhan. Jadi, tidak perlu dirisaukan.”
Pekerjaan Pangeran Sarif adalah mengajar. Murid-muridnya diajar menulis huruf Arab dan dilatih membaca serta mempelajari Al-Qur’an. Pangeran Sarif menjelaskan arti dan tafsirnya. Sangat lugs pandangannya. Dalam tempo singkat makin banyak muridnya. Itu pula yang menyebabkan orang-orang dewasa, bahkan lanjut usia ikut juga dalam pengajian Pangeran Sarif. Karena makin populer, Pangeran Sarif sering dijemput untuk mendatangi desa-desa terpencil. Di hadapan orang banyak, Pangeran Sarif memberikan penjelasan secara langsung. Bahasanya sederhana dan ada humornya. Orang makin senang. Mereka tertawa-tawa. Pangeran Sarif juga memasukkan ajaran-ajaran yang baik, mulai dari mengasuh anak sampai meningkatkan amal dalam kehidupan.

Istri Pangeran Sarif sudah biasa ditinggal sendiri di rumah. Banyak yang dikerjakannya selama suaminya berdakwah dari pagi hingga sore hari. Malam cepat berlalu dan pagi kembali. Siangnya Pangeran Sarif pulang, tetapi tidak lama pergi lagi memenuhi jemputan.

Pada suatu hari istri Pangeran Sarif merasa takut sekali tinggal sendiri di rumah sebab saat itu dia sedang hamil muda. Ketika malam tiba, suasana menjadi agak lain. Entah karena apa pembantunya sudah tidur dengan pulas di balai-balai depan. Sementara itu, di luar segerombolan penjahat sudah lama mengawasi rumah Pangeran Sarif. Mereka tahu kalau yang ada di rumah hanya istri dan pembantunya. Mereka lalu sating memberi isyarat. Anggota penjahat yang tersebar menangkap isyarat itu dan mereka bergerak ke rumah Pangeran Sarif.
Di samping rumah Pangeran Sarif jelas terlihat dua ekor sapi gemuk di dalam kandang. Di leher istri Pangeran Sarif juga terlihat kalung emas yang mahal. Anehnya, pada penglihatan para penjahat, sapi-sapi gemuk itu seperti berada di seberang lautan sehingga mereka harus berenang dengan susah payah untuk mencapainya. Kaki dan tangan mereka bergerak, tetapi tidak sampai juga. Mereka terengah-engah. Akhirnya, malam pun berlalu dengan cepat. Siangnya Pangeran Sarif datang.

“Mengapa kalian merangkak-rangkak di rumput pekarangan rumahku?” tanya Pangeran Sarif. Mendengar pertanyaan itu, para penjahat seperti radar dari pingsannya. Mereka gelagapan, malu. Akhirnya, mereka berterus terang.
“Ampunilah kami, Wan Haji. Kami memang telah berniat jahat. Kami amat menyesal. Kami berjanji tidak akan berbuat jahat lagi,” kata kepala penjahat.
“Jangan minta ampun kepadaku,” jawab Pangeran Sarif, “mintalah ampun kepada Allah. Allah-lah tempat kalian memohon segalanya, termasuk ampun kalian. Itu pun kalau kalian bersungguh-sungguh.”
“Kami bersungguh-sungguh, Wan Haji. Kami bertobat.”

Karena para penjahat itu bertobat, Pangeran Sarif memberikan bimbingan, “Ikutilah ucapanku!” Pangeran Sarif segera membacakan kalimat syahadat perlahan-lahan dan kepala penjahat beserta gerombolannya menirukan. Sejak itu mereka benarbenar bertobat dan menjadi pengikut Pangeran Sarif yang setia.
Pada suatu hari Pangeran Syarif menjelajah desa Bendungan, dekat Pasar Minggu. Hujan turun rintik-rintik. Dia meneruskan perjalanannya sampai ke tepi Sungai Ciliwung. Untuk melindungi kepalanya dari guyuran hujan, dia berkerudung kain. Tidak disangka-sangka dari arah berlawanan dia melihat rakit. Setelah ditanya, pemilik rakit mengatakan akan menuju ke kota Betawi yang makin kuat dikuasai serdadu Kompeni.

Setelah itu, dengan cepat Pangeran Sarif menyelinap ke jalan setapak di sebelah semak-semak dan membiarkan rakit itu berlalu. Dia berbuat begitu agar tetap tidak dikenal orang, terlebih bagi mereka yang akan pergi ke kota Betawi. Siapa tahu mereka lapor kepada musuh. Kalau sudah begitu biasanya serdadu-serdadu Kompeni segera datang karena para ulama waktu itu dianggap pengikut setia Pangeran Jayakarta. Siapa saja yang berjubah putih dianggap prajurit Pangeran Jayakarta.

Tukang rakit itu tahu betul kalau Pangeran Sarif menyelinap ke semak-semak di tikungan sungai. Pada penglihatannya Pangeran Sarif membelok melewati terowongan di pinggir Sungai Ciliwung. Rakit itu mengikuti Pangeran Sarif memasuki terowongan sempit dan gelap. Tidak lama kemudian Pangeran Sarif sudah muncul di pinggir Sungai Sunter dekat Pondok Gede. Tukang rakit masih mengikuti terus. Setelah sadar dia heran sekali, ketika dia bermaksud balik memasuki terowongan sempit, terowongan itu sudah tidak ada lagi.
“Ampunilah saya, Wan Haji,” tukang rakit itu menyembah-nyembah, “saya hanya tertarik kepada Wan Haji. Saya tidak bermaksud jelek. Saya tidak bermaksud melapor kepada serdadu-serdadu Kompeni. Percayalah!”

Seperti kepada kepala perampok tempo hari yang bermaksud jahat, kepada tukang rakit itu Pangeran Sarif juga menjawab penuh wibawa, “Jangan minta ampun kepadaku. Allah-lah tempat kamu memohon ampun. Allah-lah tempat kamu minta segalanya. Kamu hares memohon ampun kepada-Nya”
Tukang rakit itu lalu meniru apa yang diucapkan Pangeran Sarif. Dia menjadi pengikut Pangeran Sarif yang setia Pula. Terowongan yang bisa tembus ke Sungai Ciliwung itu kemudian dikenal dengan nama Lubang Buaya. Di daerah ini Pangeran Sarif bergerilya terus melawan serdadu-serdadu Kompeni. Para pengikutnya menyebar ke seluruh wilayah Betawi.




Sumber : http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/pangeran-sarif.html

LEGENDA PESUT MAHAKAM

Di Kalimanatan Timur terdapat sebuah sungai yang terkenal yaitu Sungai Mahakam. Di sungai tersebut terdapat ikan yang sangat khas bentuknya yaitu Pesut Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) adalah lumba-lumba air tawar Indonesia. Tubuh tegap, sirip punggung kecil & segitiga serta kepala bulat/tumpul dgn mata yg kecil. Tergolong lumba-lumba kecil, dgn panjang dewasa 2,0 – 2,75 m, bayi pesut 1,0 m. Pesut tdk terlalu aktif, terkadang melompat rendah). Sebenarnya pesut bukanlah ikan tetapi mamalia air sebagaimana Lumba-lumba dan Paus. Menurut penduduk sekitar sungai tersebut Pesut bukanlah sembarang ikan tetapi adalah jelmaan manusia.
Ceritanya pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.

Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.

Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.

Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.
Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.

Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.
Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.
 
“Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!” perintah sang ibu, “Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!”
“Tapi, Bu…” jawab anak lelakinya, “Untuk apa kayu sebanyak itu…? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi…”
“Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!” kata si ibu tiri dengan marahnya.
Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.
Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.
 
“Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!” tanya kakek itu kepada mereka. Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.
“Kalau begitu…, pergilah kalian ke arah sana.” kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, “Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!”

Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.

Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.
Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.
Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.

Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.
Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.
“Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?” tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
“Maaf, Tok.” kata si anak lelaki, “Kami ini sedang mencari kedua urangtua kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?”
Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
“Hmmm…, beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini.” kata si kakek kemudian, “Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?”
“Tak salah lagi, Tok.” kata anak lelaki itu dengan gembira, “Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?”
“Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana.”

“Terima kasih, Tok…” kata si anak sulung tersebut, “Tapi…, bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?”
“Datok ni dah tuha… mana kuat lagi untuk mendayung perahu!” kata si kakek sambil terkekeh, “Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu.”
Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.

Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.
Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Di dalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.

Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.
Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.

Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.

Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.
Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.


HUTAN PURBA DI KUTUB UTARA

Hutan purba, lengkap dengan kayu, dedaunan, dan biji-bijian, ditemukan di Kutub Utara di daerah Kanada. Hutan yang diperkirakan berumur jutaan tahun itu dikelilingi gletser, tak ada pohon, kecuali beberapa pohon kerdil seukuran bonsai.

Tim peneliti menemukan hutan itu setelah memperoleh laporan dari jagawana dari Quittinirpaaq National Park di Ellesmere Island, salah satu daratan yang posisinya paling utara. Polisi hutan itu menemukan serpihan kayu yang dianggapnya berasal dari pohon-pohon besar serta beberapa gelondongan kayu sepanjang beberapa kaki.

"Kayu-kayu itu tersebar. Sulit untuk tidak menginjaknya," kata Joel Barker, ilmuwan lingkungan dari Ohio State University yang juga pemimpin studi ini. Kalau digali lebih dalam, menurutnya, akan lebih banyak kayu, daun, dan biji ditemukan. Hutan tersebut bisa awet karena terkubur oleh longsoran dan terisolasi dari udara dan air.

Dengan mempelajari kayu, daun, dan biji, tim peneliti berhasil menemukan beberapa spesies pohon, di antaranya adalah pinus, cemara, dan birch. Menurut Barker, jumlah spesies yang tidak banyak itu menunjukkan bahwa hutan tersebut sedang di ambang kepunahan. "Hutan ini kira-kira berasal dari sepuluh juta hingga dua juta tahun yang lalu," ujar Barker.
Para peneliti juga mengukur lingkar kayu dan mendapati bahwa pohon di hutan itu setidaknya berumur 75 tahun pada saat terkubur. Cincin pohon yang kecil menunjukkan, pertumbuhan pohon sangat lambat.

Penemuan ini bisa dipakai untuk mengetahui kondisi dunia pada saat iklim Bumi berubah drastis. "Penemuan ini luar biasa. Kayu berumur jutaan tahun dengan kondisi yang masih sangat bagus akan membuka berbagai kemungkinan," kata Robert Blanchette, ahli patologi University of Minnesota.
Tim berharap menemukan kecepatan perubahan iklim dan efeknya terhadap tumbuhan. Ilmuwan juga ingin mengetahui cara pohon bereaksi terhadap pendinginan sekitar 5 juta tahun yang lalu, saat efek rumah kaca berubah jadi efek rumah es. Pemanasan global yang terjadi akhir-akhir ini merupakan kebalikan dari kejadian itu. 







ASAL MULA THAILAND

Asal mula Thailand secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek, Kerajaan Sukhothai yang didirikan pada tahun 1238. Kerajaan ini kemudian diteruskan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan pada pertengahan abad ke-14 dan berukuran lebih besar dibandingkan Sukhothai. Kebudayaan Thailand dipengaruhi dengan kuat oleh Tiongkok dan India. Hubungan dengan beberapa negara besar Eropa dimulai pada abad ke-16 namun meskipun mengalami tekanan yang kuat, Thailand tetap bertahan sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh negara Eropa, meski pengaruh Barat, termasuk ancaman kekerasan, mengakibatkan berbagai perubahan pada abad ke-19 dan diberikannya banyak kelonggaran bagi pedagang-pedagang Britania.
Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan dimulainya monarki konstitusional. Sebelumnya dikenal dengan nama Siam, negara ini mengganti namanya menjadi Thailand pada tahun 1939 dan untuk seterusnya, setelah pernah sekali mengganti kembali ke nama lamanya pasca-Perang Dunia II. Pada perang tersebut, Thailand bersekutu dengan Jepang; tetapi saat Perang Dunia II berakhir, Thailand menjadi sekutu Amerika Serikat. Beberapa kudeta terjadi dalam tahun-tahun setelah berakhirnya perang, namun Thailand mulai bergerak ke arah demokrasi sejak tahun 1980-an.

Sukhothai

Kerajaan Sukhothai adalah salah satu kerajaan tertua di Thailand yang berpusat di sekitar kota Sukhothai, berdiri sejak tahun 1238 sampai 1438. Sebelumnya wilayah kerajaan ini adalah bagian dari Kerajaan Khmer.
Pada puncak kejayaannya di bawah raja ketiga Ramkhamhaeng, Sukhothai diperkirakan terbentang dari wilayah yang sekarang termasuk Myanmar) sampai ke dalam wilayah Laos modern, serta ke arah selatan di Semenanjung Malaya. Setelah kematian Ramkhamhaeng, Sukhothai melemah dan berbagai kerajaan bawahannya mulai melepaskan diri. Pada tahun 1438, status Sukhothai berubah hanya menjadi sekedar provinsi dari Ayutthaya.

Ayutthaya

Kerajaan Ayutthaya didirikan pada tahun 1350 Raja Ramathibodi I (Uthong), yang mendirikan Ayyuthaya sebagai ibu kota kerajaannya dan mengalahkan dinasti Kerajaan Sukhothai pada tahun 1376. Dalam perkembangannya, Ayyuthaya sangat aktif melakukan perdagangan dengan berbagai negara asing seperti Tiongkok, India, Jepang, Persia dan beberapa negara Eropa. 
Setelah melalui pertumpahan darah perebutan kekuasaan antar dinasti, Ayutthaya memasuki abad keemasannya pada perempat kedua abad ke-18. Di masa yang relatif damai tersebut, kesenian, kesusastraan dan pembelajaran berkembang. Perang yang terjadi kemudian ialah melawan bangsa luar. Ayyuthaya mulai berperang melawan dinasti Nguyen (penguasa Vietnam Selatan) pada tahun 1715 untuk memperebutkan kekuasaan atas Kamboja.
Meskipun demikian ancaman terbesar datang dari Burma dengan pemimpin Raja Alaungpaya yang baru berkuasa setelah menaklukkan wilayah-wilayah Suku Shan. Pada tahun 1765 wilayah Thai diserang oleh dua buah pasukan besar Burma, yang kemudian bersatu di Ayutthaya. Ayutthaya akhirnya menyerah dan dibumihanguskan pada tahun 1767 setelah pengepungan yang berlarut-larut.

Siam

Setelah serbuan Burma yang membumihanguskan ibukota Ayutthaya, Jenderal Taksin mendirikan kerajaan baru pada tahun 1769 yang beribukota di Thonburi (sekarang termasuk dalam Bangkok) dan menyatukan kembali bekas kerajaan Ayutthaya. Taksin kemudian dianggap gila dan dieksekusi tahun 1782, dan digantikan oleh Jenderal Chakri, yang menjadi raja pertama dinasti Chakri dengan nama Rama II. Tahun yang sama dia mendirikan ibukota baru di Bangkok, di seberang sungai Chao Phraya dari ibukota lama yang didirikan Jenderal Taksin. Pada tahun 1790-an Burma berhasil diusir dari Siam.
Para penerus Rama I harus menghadapi ancaman kolonialisme Eropa setelah kemenangan Britania di Burma tahun 1826. Pada tahun yang sama Siam menandatangani perjanjian dengan Britania Raya, dan tahun 1833 Siam menjalin hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat. Perjanjian Anglo-Siam 1909 menentukan batas-batas Siam dengan Malaya, sedangkan serangkaian perjanjian dengan Perancis mematok batas timur dengan Laos dan Kamboja.
Kudeta tahun 1932 mengakhiri monarki absolut di Thailand, dan mengawali munculnya kerajaan Thailand modern.

Thailand modern

Kudeta tahun 1932 mengubah Siam menjadi Thailand modern yang berupa monarki konstitusional. Perubahan nama dari Siam menjadi Thailand sendiri baru diumumkan Perdana Menteri Plaek Pibulsonggram (Phibun) pada tahun 1939. Pemerintahan Perdana Menteri Phibun ini ditandai dengan bangkitnya nasionalisme Thai.
Pada bulan Januari 1941, Thailand menginvasi Indocina Perancis, dan memulai perang Thai-Perancis. Thailand berhasil merebut Laos, sedangkan Perancis memenangkan pertempuran laut Koh-Chang. Perang tersebut berakhir lewat mediasi Jepang. Perancis dipaksa Jepang untuk melepaskan wilayah sengketa kepada Thailand.
Dalam perang dunia II Thailand memberi hak kepada Jepang untuk menggerakkan pasukannya dalam wilayah Thailand menuju Malaya, yang pada saat itu dikuasai Inggris. Pada bulan Desember 1941 Thailand dan Jepang menyetujui persekutuan militer yang berisi persetujuan Jepang untuk membantu Thailand untuk merebut kembali wilayah yang diambil Britania dan Perancis (Shan, Malaya, Singapura, sebagian Yunnan, Laos dan Kamboja). Sebagai imbalannya, Thailand akan membantu Jepang menghadapi Sekutu.
Setelah kekalahan Jepang,, Thailand diperlakukan sebagai negara yang kalah oleh Britania dan Perancis. Namun dukungan Amerika Serikat terhadap Thailand membatasi kerugian yang diderita Thailand. Thailand harus mengembalikan wilayah yang diperolehnya dari kedua negara Eropa tersebut, namun Thailand sendiri tidak diduduki. Thailand kemudian menjadi sekutu Amerika Serikat menghadapi ancaman komunisme dari negara-negara tetangganya.
Pada tahun 1967, bersama-sama dengan Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina, Thailand mendirikan ASEAN dan aktif sebagai anggota di dalamnya




Sumber : http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/03/21/sejarah-asal-usul-berdirinya-thailand/

Tuesday, December 13, 2011

Konflik Organisasi


Definisi Konflik
Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Jenis-Jenis konflik
  • Konflik intra perorangan
Konflik ini muncul dlm diri seorang individu dgn pemikirannya sendiri. (Individu mengalami semacam tekanan-tekanan dlm dirinya sendiri secara emosional)

  • Konflik antar perorangan
Terjadi antara  satu individu dengan individu lain atau lebih, biasanya disebabkan oleh a danya perbedaan sifat & perilaku setiap orang dlm organisasi.
  • Konflik antar kelompok
Terjadi apabila diantara unit-unit kelompok mengalami pertentangan dengan unit-unit dari kelompok lain, pertentangan ini bila berlarut-larut akan membuat koordinasi & integrasi kegiatan menjadi terkendala/mengalami kesulitan.
  • Konflik antar keorganisasian
Konflik bisa juga terjadi antara organisasi yg satu dengan yg lain, karena adanya ketidakcocokan  suatu badan terhadap kinerja suatu organisasi.
Sebab-Sebab Konflik
  • Persaingan terhadap sumber-sumber daya yg langka
  • Ketergantungan tugas (interdependence)
  • Kekaburan batas-batas bidang kerja
  • Kriteria kinerja yg tidak sesuai
  • Perbedaan-perbedaan Tujuan & Prioritas
Metode Peneyelesaian Konflik
  • Dominasi dan penekanan
    • DOMINASI atau KEKERASAN yang BERSIFAT PENEKANAN OTOKRATIK. Ketaatan harus dilakukan oleh pihak yang kalah pada otoritas yang lebih tinggi atau kekuatan yang lebih besar.
    • MEREDAKAN atau MENENANGKAN, metode ini lebih terasa diplomatis dlm upaya menekan dan meminimalkan ketidaksepahaman.
  • Kompromi
    • PEMISAHAN, pihak-pihak yg berkonflik dipisah sampai menemukan solusi atas masalah yg terjadi
    • ARBITRASI, adanya peran orang ketiga sbg penengah untuk penyelesaian masalah
    • Kembali ke aturan yang berlaku saat tdk ditemukan titik temu antara kedua pihak yg bermasalah.
  • Pemecahan masalah integratif
  • KONSENSUS, sengaja dipertemukan untuk mencapai solusi terbaik, bukan hanya menyelesaikan masalah dgn cepat
  • KONFRONTASI, tiap pihak mengemukakan pandangan masing-masing secara langsung & terbuka.
  • PENENTU TUJUAN, menentukan tujuan akhir kedepan yang lebih tinggi dengan kesepakatan bersama.