Saturday, March 30, 2013

Deduktif


1.      Pengertian Deduksi
Kata deduksi berasal dari kata Latin deducere (de yang berarti ‘dari’, dan kata decure yang berarti ‘menghantar’,’memimpin’). Dengan demikian katadeduksi yang diturunkan dari kata itu berarti ‘menghantar dari sesuatu hal ke sesatu hal yang lain’. Sebagai suatu istilah dari penalaran, deduksi merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Uraian mengenai proses berfikir deduktif akan dilangsungkan melalu beberapa corak berpikir deduktif, yaitu : silogisme kategorial, silogisme hipotesis, silogisme disjungtif atau silogisme alternatif, entimem, rantai deduksi, dan teknik pengujuan kebenaran atas tiap corak penalaran deduktif itu.
2.      Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme adalah suatu bentuk proses penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan prosposisi yang ketiga. Secara khusus silogisme kategorial dapat dibatasi sebagai suatu argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga proposisi katergorial, yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu. Tiap-tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, misalnya :
1.    Semua buruh adalah manusia pekerja.
2.    Semua tukang batu adalah buruh.
3.    Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.
Dalam rangkaian pernyataan di atas terdapat tiga proposisi a + b + c. Dalam rangkaian silogisme kategorial hanya terdapat tiga term, dan tiap term muncul dalam dua proposisi.
3.      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese. Silogisme hipotetis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh karena sebab itu rumus proposisi mayor dari silogisme ini adalah:
Jika P, maka Q
Contoh silogisme hipotesis :
Premis mayor  : Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal.
Premis minor  : Hujan tidak turun.
Konklusi          : Sebab itu panen akan gagal.
Dalam kenyataan, yaitu bila kita menghadapi persoalan, maka kita dapat mempergunakan pola penalaran di atas.
4.      Silogisme Alternatif
Jenis silogisme yang ketiga adalah silogisme alternatif atau disebut jugasilogisme disjungtif. Silogisme ini dinamakan demikian, karena proposisi mayornya merupakan sebuah proposisi yang mengandung kemungkinan-kemungkinan atau pilihan-pilihan. Sebaliknya porposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Sebagai contoh berikut :
Premis mayor  : Ayah ada dikantor atau dirumah
Premis minor  : Ayah ada dikantor
Konklusi          : Sebab itu, ayah tidak ada dirumah.
Atau
Premis mayor  : Ayah ada dikantor atau dirumah
Premis minor  : Ayah tidak ada dikantor
Konklusi          : Sebab itu, ayah ada dirumah.
Secara praktis kita juga sering bertindak seperti itu. Untuk menetapkan sesuatu atau menemukan sesuatu secara sistematis kita bertindak sesuai denga pola silogisme alternatif itu.
5.      Entimem
Silogisme sebagai suatu cara untuk menyatakan pikiran tampaknya bersifat artifisial. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya silogisme itu muncul hanya dengan dua proposisi, salah satunya dihilangkan. Walaupun dihilangkan, proposisi itu tetap dianggap ada dalam pikiran, dan dianggap diketahui pula oleh orang lain. Bentuk semacam ini dinamakan entimem yang berarti ‘simpan dalam ingatan’ dalam bahasa yunani. Dalam tulisan-tulisan bentuk inilah yang dipergunakan, dan bukan bentuk yang formal seperti silogisme.
Misalnya sebuah silogisme asli akan dinyatakan oleh seorang pengasuh ruangan olahraga dalam sebuah harian sebagai berikut:
Premis mayor  : Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup adalah Seorang pemain kawakan.
Premis minor  : Rudy Hartono terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.
Konklusi          : Sebab itu Rudy Hartono adalah seorang pemain (bulu tangkis) kawakan.
Bila pengasuh ruangan olahraga menulis seperti diatas, dan semua gaya tulisannya sehari-hari mengikuti corak tersebut, maka akan dirasakan bahwa tulisannya terlalu kaku. Sebab itu ia akan mengambil bentuk lain, yaitu entimem. Bentuk itu akan berbunyi, “Rudy hartono adalah seorang pemain bulu tangkis kawakan, karena terpilih untuk mengikuti pertandingan Thomas Cup.”
Persoalan dala sebuah argumentasi adalah bagai mana mengemukakan dan menganalisa kebenaran atau menunjukkan kekeliruan penalaran orang lain. Bagaimana harus memperlihatkan hubungan antara proposisi-proposisi yang terdapat dibalik tulisannya itu. Tetapi ia juga harus merumuskan penalarannya itu dalam bahasa yang baik. Sebab itu, bentuk penalaran seperti bermacam-macam silogisme sebagai yang dikemukakan di atas harus dikuasai untuk mampu menguji kebenaran dan kesahihan kesimpulan yang diturunkannya. Namun sesudah itu ia juga berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran itu dalam bentuk bahasa yang baik, dalam hal ini ia harus memilih entimem yang sesuai dengan kebenaran yang ingin disampaikannya itu.

Sumber:
Buku: Keraf,Gorys. 2001. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Penalaran


1. Argumentasi
Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka itu percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga dia dapat menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak. Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan. Dan dalam dunia ilmu pengetahuan, argumentasi itu tidak lain daripada usaha untuk mengajukan bukti-bukti atau menentukan kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan sikap pendapat mengenai suatu hal.
Seorang mahasiswa harus bisa menggunakan keempat retorika tersebut, misalnya dapat menulis mengenai suatu topik dengan meggunakan bentuk narasi, deskripsi, exposisi, dan argumentasi.
2. Proposisi
Penalaran (reasoning, jalan pikiran) adalah suatu proses berpikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi-evidensi yang diketahui menuju suatu kesimpulan. Penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan yang logis. Penalaran bukan saja dapat dilakukan dengan mempergunakan kata-kata yang masih berbentuk polos, tetapi juga dilakukan dengan mempergunakan fakta-fakta yang telah dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang berbentuk pendapat atau kesimpulan. Kalimat-kalimat semacam ini, dalam hubungannya dengan proses berpikir tadi disebut proposisi. Proposisi dapat kita batasi sebagai pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau dapat ditolak karena kesalahan yang terkandung didalammnya. Sebuah pernyataan dapat dibenarkan bila terdapat bahan-bahan atau fakta-fakta yang kuat untuk membuktikannya. Sebaliknya sebuah pernyataan atau proposisi dapat disangkal atau ditolak apabila terdapat fakta-fakta yang kuat untuk menentangnya. Untuk contoh lebih jelasnya sebagai berikut :
Semua manusia akan mati pada suatu waktu
Beberapa orang Indonesia memiliki kekayaan yang berlimpah-limpah
Kota Bandung hancur dalam Perang Dunia Kedua karena bom atom.
Semua gajah lelah pada tahun 1980.
Keempat kalimat diatas merupakan proposisi, kedua kalimat yang pertama dapat dibuktikan kebenarannya, dan kedua kalimat terahir dapat ditolak karena fakta-fakta yang ada menentang kebenarannya. Tetapi keempat kalimat tersebut tetap merupakan proposisi.
3. Inferensi dan Implikasi
Tiap proposisi dapat mencerminkan dua macam kemungkinan, pertama ia merupakan ucapan-ucapan faktual sebagai akibat dari pengalaman seseorang mengenai suatu hal. Kedua proposisi dapat juga merupakan pendapat, atau kesimpulan seseorang mengenai suatu hal. Untuk membuktikan kebenaran yang terkandung dalam sebuah kesimpulan, harus dicari dan di uji fakta-fakta yang dijadikan landasan untuk menyusun kesimpulan itu. Fakta adalah apa saja yang ada, baik perbuatan yang dilakukan maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi atau sesuatu yang ada di alam ini tanpa memperhatikan atau mempersoalkan bagai mana pendapat orang-orang tentangnya.
Kata inferensi berasal dari kata Latin inferred yang berarti menarik kesimpulan. Kata implikasi juga berasal dari bahasa latin, yaitu dari kataimplicare yang berarti melibat atau merangkum. Dalam logika, juga dalam ilmiah lainnya, kata inferensi adalah kesimpulan yang diturunkan dari apa yang ada atau dari fakta-fakta yang ada. Sedangkan implikasi adalah rangkuman, yaitu sesuatu dianggap ada karena sudah dirangkum dalam fakta atau efidansi itu sendiri.
4. Wujud Evidensi
Unsur yang paling penting dalam suatu tulisan argumentative adalah evidensi. Pada hakikatnya evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas dan sebagainya yang di hubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran.fakta dalam kedudukan sebagai efidensi tidak boleh dicampur adukkan dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan dan penegasan.Pernyataan tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap sebuah evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah fakta itu benar atau tidak. Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pendengar sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya.
Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi.Yang dimagsud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu. Biasanya semua bahan informasi berupa statistik, dan heterangan-keterangan yang dikumpulkan atau di berikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya dimasukkan kedalam pengertian data daninformasi. Untuk itu penulis atau pembicara harus mengadakan pengujian atas data dan informasi tersebut, apakah semua bahan keterangan itu merupakan fakta. Fakta adalah sesuatu yang sesungguhnya terjadi, atau yang ada secara nyata.
5. Cara Menguji Data
Supaya data dan informasi dapat di pergunakan dalam penalaran data dan informasi itu harus merupakan fakta. Dalam kedudukannya yang pasti sebagai data, bahan-bahan itu siap digunakan sebagai evidensi. Oleh sebab itu perlu diadakan pengujian-pengujian melalui cara-cara tertentu. Di bawah ini akan di kemukakan beberapa cara yang dapat dipergunakan untuk mengadakan pengujian tersebut.
a.   Observasi
Fakta-fakta yanag telah diajukan sebagai evidensi mungkin belum memuaskan seseorang pengarang atau penulis. Untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri dan sekaligus dapat menggunakannya sebaik-baiknya dalam usaha menyakinkan para pembaca, maka kadang-kadang pengarang merasa perlu untuk mengadakan peninjauan atau observasi singkat untuk mengecek data atau informasi itu dan sesungguhnya dalam beberapa banyak hal pernyataan-pernyataan yang diberikan oleh seseorang, biasanya didasarkan pula atas observasi yang telah diadakan.
b. Kesaksian
Keharusan menguji data dan informasi, tidak selalu harus diakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengharuskan seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus di keluarkan. Untuk mengatasi hal itu penulis atau pengarang dapat melakukan pengujian dan meminta kesaksian atau keterangan dari orang lain, yang telah mengalami sendiri atau menyelidiki sendiri persoalan itu. Demikian pula halnya dengan penulis dan pengarang atau penulis, untuk memperkuat evidensinya mereka dapat mempergunakan kesaksian orang lain yang telah mengalami peristiwa tersebut.
c. Autoritas
Cara ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu autoritas, yakni pendapat dari seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua fakta kemudian memberikan pendapat mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam bidang itu.
6. Cara Menguji Fakta
Sebagai telah dikemukakan diatas, untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian, apakah data-data atau informasi itu merupakan kenyataan atau hal-hal yang sunguh-sungguh terjadi. Penilaian tingkat pertama hanya diarahkan untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua keyakinan itu adalah fakta.
a. Konsistensi
Dasar pertama yang harus dipakai untuk menetapkan fakta mana yang akan dipakai sebagai evidensi adalah konsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga persuasif yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten, tidak ada suatu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi yang lain.
b. Koherensi
Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan penilaian atau fakta mana yang dapat dipergunakan sebagai evidensi adalah masalah koherensi.Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus pula koherendengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan pandangan atau sikap yang berlaku.
7. Cara Menilai Autoritas
Seorang penulis yang baik dan obyektif selalu akan menghindari semua desas-desus, atau kesaksian tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan apa pula apa yang hanya merupakan pendapat saja, atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data-data fundamental. Demikian pula sikap seorang penulis menghadapi pendapat autoritas. Ada kemungkinan bahwa suatu autoritas dapat melakukan suatu kesalahan-kesalahan. Untuk menilai suatu otoritas, penulis dapat memilih beberapa pokok berikut :
a. Tidak Mengandung Prasangka
Dasar pertama yang perlu diketahui oleh penulis adalah pendapat autoritas sama sekali tidak boleh mengandung prasangka. Yang tidak mengandung prasangkaartinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau didasarkan pada hasil-hasil eksperimental yang dilakukannya. Pengertiantidak mengandung prasangka juga mencakup hal lain, yaitu bahwa autoritas itu tidak boleh memperoleh keuntungan pribadi dari data-data eksperimentalnya. Bila faktor-faktor itu tidak mempengaruhi autoritas itu, maka pendapatnya dapat dianggap sebagai suatu pendapat yang obyektif.
b. Pengalaman dan Pendidikan Autoritas
Dasar kedua yang harus diperhitungkan penulis untuk memperhitungkan penulis untuk menilai pendapat suatu otoritas adalah menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal, pendididkan yang diperolehnya harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli yang diperoleh melalui pendidikan tadi. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh autoritas, penelitian-penelitian yang dilakukan dan prestasi hasil-hasil penelitian dan hasil pendapatnya akan lebih memperkokoh kedudukannya, dengan catatan bahwa syarat pertama diatas harus juga di perhatikan.
c. Kemashuran dan Prestise
Faktor ketiga yang harus diperhatikan oleh penulis untuk menilai autoritas adalah meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi dibalik kemasyuran dan prestise pribadi dibidang lain. Apakah ahli itu menyertakan pendapatnya dengan fakta-fakta yang meyakinkan.
d. Koherensi dengan Kemajuan
Hal keempat yang perlu diperhatikan oleh penulis argumentasi adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas itu sejalan dengan perkembangan dengan kemajuan jaman, atau koheren dengan pendapat atau sikap terahir dalam bidang itu. Pengetahuan dan pendapat terahir tidak selalu berarti bahwa pendapat itulah yang terbaik. Tetapi harus diakui bahwa pendapat-pendapat terahir dari ahli-ahli dalam bidang yang sama lebih dapat diandalkan, karena autoritas-autoritas semacam itu memperoleh kesempatan yang paling baik untuk membandingkan semua pendapat sebelumnya, dengan segala kebaikan dan keburukan atau kelemahannya, sehingga mereka dapat mencetuskan suatu pendapat yang lebih baik, yang lebih dapat di pertanggung jawabkan.
Untuk melihat bahwa penulis sungguh-sungguh siap dengan persoalan yang tengah diargumentasikan, maka sebaiknya seluruh argumentasi itu jangan didasarkan hanya pada suatu autoritas. Dengan bersandar pada suatu autoritas saja, maka hal itu diperlihatkan bawha penulis karangan telah benar-benar mempersiapkan diri.
Sumber:
Buku: Keraf,Gorys. 2001. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wednesday, March 20, 2013

Tugas Jaringan Komputer Ke-2



Berikut ini adalah beberapa gambar (diagram) dan penjelasan singkat mengenai tipe-tipe jaringan komunikasi :
1. Switched Network
 Image
Switched network adalah sebuah alat jaringan yang melakukan penjembatan taktampak (penghubung penyekatan (segmentation) banyak jaringan dengan pengalihan berdasarkan alamat MAC).
Switched network dapat digunakan sebagai penghubung komputer atau penghala pada satu area yang terbatas, pengalih juga bekerja pada lapisan taut data (data link), cara kerja pengalih hampir sama seperti jembatan (bridge), tetapi switch memiliki sejumlah porta sehingga sering dinamakan jembatan pancaporta (multi-port bridge).

A network switch is a computer networking device that links network segments or network devices. The term commonly refers to a multi-port network bridge that processes and routes data at the data link layer (layer 2) of the OSI model. Switches that additionally process data at the network layer (layer 3) and above are often called layer-3 switches or multilayer switches.
Switches exist for various types of networks including Fibre Channel, Asynchronous Transfer Mode, InfiniBand, Ethernet and others.

2. Circuit Switched Network
 Image
Dalam dunia telekomunikasi, jaringan circuit switching adalah jaringan yang mengalokasikan sebuah sirkuit (atau kanal) yang dedicated di antara nodes dan terminal untuk digunakan pengguna untuk berkomunikasi. Sirkuit yang dedicated tidak dapat digunakan oleh penelepon lain sampai sirkuit itu dilepaskan, dan koneksi baru bisa disusun. Bahkan jika tidak ada komunikasi berlangsung pada sebuah sirkuit yang dedicated, kanal tersebut tetap tidak dapat digunakan oleh pengguna lain. Kanal yang dapat dipakai untuk hubungan telepon baru disebut sebagai kanal yang idle.

Circuit switching is a methodology of implementing a telecommunications network in which two network nodes establish a dedicated communications channel (circuit) through the network before the nodes may communicate. The circuit guarantees the full bandwidth of the channel and remains connected for the duration of the communication session. The circuit functions as if the nodes were physically connected as with an electrical circuit.
The defining example of a circuit-switched network is the early analog telephone network. When a call is made from one telephone to another, switches within the telephone exchanges create a continuous wire circuit between the two telephones, for as long as the call lasts.
Circuit switching contrasts with packet switching which divides the data to be transmitted into packets transmitted through the network independently. In packet switching, instead of being dedicated to one communication session at a time, network links are shared by packets from multiple competing communication sessions, resulting in the loss of the quality of service guarantees that are provided by circuit switching.
In circuit switching, the bit delay is constant during a connection, as opposed to packet switching, where packet queues may cause varying and potentially indefinitely long packet transfer delays. No circuit can be degraded by competing users because it is protected from use by other callers until the circuit is released and a new connection is set up. Even if no actual communication is taking place, the channel remains reserved and protected from competing users.
(source : http://id.wikipedia.org/wiki/Circuit_switching )

3. Packet Switched Network
 Image
Sebuah jaringan packet-switched adalah jaringan komunikasi digital yang kelompok semua data yang ditransmisikan, terlepas dari konten, jenis, atau struktur ke blok berukuran yang sesuai, yang disebut paket. Jaringan di mana paket ditransmisikan adalah jaringan bersama yang rute setiap paket independen dari semua orang lain dan menyediakan sumber daya transmisi yang diperlukan.
Tujuan utamanya adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan kapasitas link yang tersedia, meminimalkan waktu respon dan meningkatkan ketahanan komunikasi. Ketika melintasi adapter jaringan, switch dan node jaringan lainnya, paket buffer dan antri, mengakibatkan keterlambatan variabel dan throughput, tergantung pada beban lalu lintas dalam jaringan.

A packet-switched network is a digital communications network that groups all transmitted data, irrespective of content, type, or structure into suitably sized blocks, called packets. The network over which packets are transmitted is a shared network which routes each packet independently from all others and allocates transmission resources as needed.
The principal goals of packet switching are to optimize utilization of available link capacity, minimize response times and increase the robustness of communication. When traversing network adapters, switches and other network nodes, packets are buffered and queued, resulting in variable delay and throughput, depending on the traffic load in the network.
(source : http://en.wikipedia.org/wiki/Packet-switched_network )

4. Broadcast Network
 Image
Sebuah broadcast network adalah sebuah organisasi, seperti perusahaan atau asosiasi sukarela lainnya, yang menyediakan siaran langsung atau rekaman konten, seperti film, berita, olahraga, urusan pemrograman public, dan program televisi lainnya untuk siaran selama sekelompok stasiun radio atau televisi stasiun. Kebanyakan jaringan terutama baik jaringan televisi atau jaringan radio, meskipun beberapa organisasi menjalankan kedua jenis jaringan.
Media streaming, internet webcasting radio kadang-kadang dianggap sebagai bentuk penyiaran meskipun kurangnya stasiun siaran, dalam hal ini praktisi juga dapat disebut “broadcasters” atau bahkan “broadcast networks”.

A broadcast network is an organization, such as a corporation or other voluntary association, that provides live television or recorded content, such as movies, newscasts, sports, Public affairs programming, and other television programs for broadcast over a group of radio stations or television stations. Most networks are primarily either a television network or a radio network, although some organizations run both types of networks.
Streaming media, Internet radio Webcasting is sometimes considered a form of broadcasting despite the lack of broadcast stations, in which case its practitioners may also be called “broadcasters” or even “broadcast networks”.
(source : http://en.wikipedia.org/wiki/Broadcast_network )

5. Packet Radio Network
 Image
Packet radio adalah bentuk teknologi packet switching yang digunakan untuk mengirimkan data digital melalui radio atau komunikasi nirkabel link. Ia menggunakan konsep yang sama transmisi data melalui Datagram yang fundamental untuk komunikasi melalui Internet, yang bertentangan dengan teknik terdahulu yang digunakan oleh dedicated atau switched circuits.

Packet radio is a form of packet switching technology used to transmit digital data via radio or wireless communications links. It uses the same concepts of data transmission via Datagram that are fundamental to communications via the Internet, as opposed to the older techniques used by dedicated or switched circuits.
(source : http://en.wikipedia.org/wiki/Packet_radio )

6. Satellite Network
 Image
Akses internet satelit adalah akses internet yang disediakan melalui satelit. Satelit layanan Internet yang modern biasanya diberikan kepada pengguna di seluruh dunia melalui satelit geostasioner yang dapat menawarkan kecepatan data yang tinggi, dengan satelit terbaru mencapai kecepatan hingga 18 Mbps.

Satellite Internet access is Internet access provided through satellites. Modern satellite Internet service is typically provided to users world-wide through geostationary satellites that can offer high data speeds, with the latest satellites achieving speeds up to 18 Mbps.
(source : http://en.wikipedia.org/wiki/Satellite_Internet_access )

7. Local Network
 Image
Jaringan wilayah lokal (bahasa Inggris: local area network biasa disingkat LAN) adalah jaringan komputer yang jaringannya hanya mencakup wilayah kecil; seperti jaringan komputer kampus, gedung, kantor, dalam rumah, sekolah atau yang lebih kecil. Saat ini, kebanyakan LAN berbasis pada teknologi IEEE 802.3 Ethernet menggunakan perangkat switch, yang mempunyai kecepatan transfer data 10, 100, atau 1000 Mbit/s. Selain teknologi Ethernet, saat ini teknologi 802.11b (atau biasa disebut Wi-fi) juga sering digunakan untuk membentuk LAN. Tempat-tempat yang menyediakan koneksi LAN dengan teknologi Wi-fi biasa disebut hotspot.
Pada sebuah LAN, setiap node atau komputer mempunyai daya komputasi sendiri, berbeda dengan konsep dump terminal. Setiap komputer juga dapat mengakses sumber daya yang ada di LAN sesuai dengan hak akses yang telah diatur. Sumber daya tersebut dapat berupa data atau perangkat seperti printer. Pada LAN, seorang pengguna juga dapat berkomunikasi dengan pengguna yang lain dengan menggunakan aplikasi yang sesuai.
Berbeda dengan Jaringan Area Luas atau Wide Area Network (WAN), maka LAN mempunyai karakteristik sebagai berikut :
-      Mempunyai pesat data yang lebih tinggi
-      Meliputi wilayah geografi yang lebih sempit
-      Tidak membutuhkan jalur telekomunikasi yang disewa dari operator telekomunikasi
Biasanya salah satu komputer di antara jaringan komputer itu akan digunakan menjadi server yang mengatur semua sistem di dalam jaringan tersebut.

A local area network (LAN) is a computer network that interconnects computers in a limited area such as a home, school, computer laboratory, or office building using network media. The defining characteristics of LANs, in contrast to wide area networks (WANs), include their usually higher data-transfer rates, smaller geographic area, and lack of a need for leased telecommunication lines.
ARCNET, Token Ring and other technology standards have been used in the past, but Ethernet over twisted pair cabling, and Wi-Fi are the two most common technologies currently used to build LANs.
(source : http://en.wikipedia.org/wiki/Local_area_network )

Wednesday, March 13, 2013